Blog Archives
Cerita dari Cikeusal
PNPM di Cikeusal menjadi sorotan, dalam Semiloka yang diadakan di BAPEDA Kab. Serang pada Jum’at 11-12-2009 bahkan Kang Jamal dari Pengurus UPK Cikeusal menjadi salah satu narasumber pada acara itu. Cikeusal memang pantas disanjung dan dielu-elukan, prestasinya mengharumkan tidak hanya Kabupaten Serang, juga Provinsi Banten dan bahkan bangsa Indonesia. Cikeusal memberikan bukti bahwa gairah untuk maju pada masyarakat miskin itu ada, menunggu diberdayakan dan meminta diarahkan. Siapa peduli? PNPM datang ke Cikeusal, memberi solusi, tidak memberi ikan tapi memberi pancing.
Sesuatu yang menarik dan menjadi pusat perhatian pada acara itu adalah cerita tentang sosok seorang ibu yang tegar. Sutiyamah namanya.
Duduk di depan seorang ibu berpakaian sederhana, tampangya pun sudah menandakan hidup ini berat untuknya, kerutan di wajahnya adalah bukti betapa lelah ia menjalani hidup, tapi tegak kepalanya menunjukkan betapa tegarnya ia.
Ia membuka suara dengan lirih, itu bukanlah usaha dia mendramatisasi cerita yang ia akan bawakan, karena cerita itu sudah begitu dramatis tanpa perlu lagi didramatisir. Katanya “saya adalah seorang ibu yang sangat miskin” ia memulainya dengan suara agak gemetar, sepertinya ia cukup bisa mengendalikan diri bercerita di depan orang banyak, malah sebagian besar adalah orang penting di Kabupaten. “Ya, saya miskin” lanjutnya menegaskan. “Karena saya tak punya usahan apapun untuk menghidupi keluarga saya, itu pulalah yang menyebabkan saya tak diberi kesempatan mendapatkan pinjaman dari PNPM”.
Ia melanjutkan kemudian “Saya tidak menyesal bersuamikan Tukang Senso, sama sekali tidak, ia adalah jodoh saya. Saya syukuri semua yang saya dapat, hidup yang begitu berat inipun saya jalani dengan sabar dan tawakkal, saya yakin ada rizki yang telah disiapkan untuk saya, saya harus berjuang menemukannya”. Berhenti sejenak ia kemudian melanjutkan ceritanya “Pendapatan suami saya tidak mencukupi kebutuhan keluarga, untuk makan saja, tidak cukup. Kami sekeluarga hanya mampu makan satu kali sehari, sungguh sangat sengsara hidup kami. Saat suami saya butuh kenek untuk membantunya nyenso, saya tawarkan diri saya, saya bilang sama suami saya, –jangan cari orang lainlah pak, saya saja… lumayan untuk tambahan– suami saya setuju dan saya mulai ngenek senso, pekerjaan yang sebetulnya tidak cocok untuk seorang ibu.” Ibu Sutiyamah diam sebentar sebelum melanjutkan ceritanya, tapi saat ia bercerita para hadirin di ruangan itu banyak yang menyela berbicara, ada yang bilang –sedih amat bu–, ada juga yang bilang –kasian amat ibu– macam-macamlah. Bu Sutiyamah langsung menanggapi “ini memang ceritanya menyedihkan katanya” sedikit tersenyum. Senyum pertama dari sejak ia memulai cerita.
“Suatu hari anak saya sakit” Ibu Sutiyamah melanjutkan ceritanya. “Jadinya, saya tak bisa ikut bapa ikut ngenek, bapa pergi sendiri. Sebetulnya sulit kalo bapa sendirian, harus ada orang yang membantu, paling tidak memegangi benang yang biasanya jadi patokan bapak memotong kayu. Saat sendiri bapa memasang benang dengan terlebih dahulu dililitkan di paku, paku itu kemudian ia tancapkan di ujung kayu yang akan dipotong, kemudian ia tarik hingga keujung, dan menariknya kencang sebelum kemudian melepaskannya. Bekas tali itulah yang kemudian bapa jadikan patokan. Malang benar hari itu, paku terlepas dan terpental ke arah muka tepat ke mata bapa.” Ibu Sutiyamah terdiam sejenak menahan kesedihan mengingat kejadian itu. Isakkaanya sayup terdengar lirih.
Ia berusaha mengendalikan diri dan berusaha melanjutkan cerita “sejak itu” katanya, “saya berusaha sebisa saya menjadi tulang punggung keluarga. Menyiapkan makanan dari mana saja sebisa saya, termasuk mengambil daun-daunan untuk disayur disekitar kampung saya, memohon pinjaman dari satu tetanggga ke tetangga lain, meski tak jarang susah juga karena mereka pun tak percaya saya bisa mengembalikan pinjamannya”. “Yang lebih parah, menjadi pemulungpun saya pernah, demi keluarga apapun saya bisa lakukan, asalkan halal dan tidak mencuri” tegasnya.
“Suatu hari” Bu Sutiyamah melanjutkan. “Saya dengar tentang PNPM, katanya PNPM ngasih pinjaman untuk orang miskin, saya kemudian tanya ke tetangga, lalu saya mendaftakan diri, tapi saya tak bisa dapat pinjaman, katanya saya tak punya usaha, sedangkan syaratnya saya harus punya usaha dulu.” Bu Sutiyamah mendesah mengingat saat itu. “Kemudian saya berusaha pinjam ke UPK, alhamdulilah dapat” lanjutnya. “waktu itu saya dapat 500.000 dan saya gunakan untuk modal usaha, saya jualan gorengan dan separonya saya jualan bensin. Alhamdulilah saya dapat membayar ansuran saya dengan lancar, usaha saya lancar dan sangat membantu keluarga saya, setidaknya untuk kebutuhan makan.” Senyum Bu Sutiyamah sekarang berkembang lebih lebar, kepuasannya menuai buah dari kesabaran dan ketegarannya terlihat jelas di wajahnya. “Sekarang ini pinjaman saya 5.000.000, dan saya mampu banyak dengan tepat waktu” Ibu Sutiyamah menutup ceritanya dengan sebuah senyum yang teramat manis. Senyum yang menggugah, memberikan motivasi untuk semua hadirin yang berada di ruangan itu, sebuah pelajaran berharga dari seorang ibu yang tegar. (cerita ini sebagian saya sesuaikan, tanpa mengurangi substansi–gambar mungkin tidak relevan)
Hujan, oh hujan
Hujan itu anugrah, kita semua mengerti bahwa kemurahan Tuhan telah memberikan kepada kita kesempurnaan alam untuk kita nikmati. Hujan adalah salah satu anugrah Tuhan yang sangat penting, karena tanah subur kita semakin subur jika hujan turun secara teratur.
Hujan yang hampir setiap hari terjadi di Kecamatan Ciomas Kab. Serang juga merupakan nikmat yang perlu kita syukuri, makanya ketika beberapa TPK yang datang ke kantor mengeluh kerepotan ngatur tempo pengerjaan kegiatan fisik (pengaspalan jalan) saya kontan menjawab seperti yang tulis diawal tadi. Jadi, idealnya demikian, hujan patut kita syukuri.
Soal kegiatan yang terhambat? Saya pikir kita ini manusia, tentu Tuhan tak membekali kita dengan akal hanya untuk sia-sia, melainkan untuk membuat manusia itu mampu dengan baik merencanakan semua kegiatannya, salah satunya dengan mempertimbangkan rotasi musim, ya kalau di Ciomas, antara musim panas sama musim hujan.
Jadi, tentu salah jika kita mengeluh pada anugrah yang baik buat kita seperti hujan, padahal hujan selalu datang pada musimnya.
Meskipun demikian, alhamduliah, dengan keluh kesah yang selalu terdengar dari para TPK, toh kegiatan pengaspalan jalan, tpt, G-G dan lain-lain di Kecamatan Ciomas sekarang telah mencapai 80%. Ya saya pikir masuk kategori baik, mengingat waktu pelaksanaan sampai 31 des tahun ini.
PNPM dan Harapan Kebangkitan Perempuan

PNPM adalah program yang hampir sempurna dalam konsepnya, setidaknya dalam prinsip-prinsip dasar kita bisa dapatkan bagaimana program ini sebetulnya tidak hanya menawarkan bantuan (an sich) untuk keluarga miskin akan tetapi juga memberikan penanganan yang menyeluruh terhadap permasalahan kesejahteraan keluarga miskin. Dalam prinsip dasar PNPM kita mendapatkan penegasan tentang pentingnya sebuah pembangunan yang berlandaskan kebutuhan, bukan semata-mata keinginan. Selain itu, bahwa sebuah pengajuan kegiatan harus melalui prosedur yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Kewajiban akan harus adanya kegiatan musyarah dari tingkatan dusun sampai tingkatan kecamatan untuk tahapan sosialisasi, pengajuan gagasan, penetapan prioritas usulan memang memberikan sedikit ruang untuk pihak-pihak yang biasanya berperliku nakal untuk berulah. Dengan demikian, semoga apa yang menjadi tujuan dari program ini benar-benar dapat tercapai.
Sebuah harapan kemudian muncul. Peningkatan status sosial perempuan merupakan salah satu yang paling nampak. Setidaknya ini menjadi wajar oleh karena secara sosiologis Kecamatan Ciomas masih merupakan wilayah yang kurang mampu menyerap kemajuan, baik kemajuan tekhnologi maupun kemajuan pemikiran. Sehingga, memang tidak dipungkiri bahwa perempuan Ciomas sampai saat ini tidak mendapat kesempatan yang sama dengan seperti yang didapat kaum laki-laki. Dalam PNPM dengan adanya program Simpan Pinjam Khusus Perempuan (SPKP) menunjukan bahwa kesempatan perempuan untuk dapat bangkit secara mandiri diharapkan dapat diwujudkan. Dalam kegiatan PNPM baik pada tahapan sosialisasi maupun pengajuan gagasan dan bahkan pada saat verifikasi SPKP selalu saja muncul pertanyaan “mengapa hanya perempuan yang mendapatkan pinjaman modal usaha?” sebelum saya menjawab, mereka malah menjawab sendiri, “Itu bukti kalau pemerintah sekarang sudah tidak percaya lagi sama laki-laki”. Sebetulnya saya setuju dengan jawaban itu. Setidaknya ini sebuah pengakuan tidak langsung akan seringnya kaum “laki-laki” bersikap nakal terhadap bantuan pemerintah. Tapi menurut saya jawaban seperti demikian tentu tidak tepat. Saya lebih baik menjawab begini. “karena perempuan lebih membutuhkan bantuan modal usaha dari pada laki-laki, oleh karena banyak perempuan di desa-desa yang sebetulnya punya potensi mengembangkan usaha akan tetapi mereka memiliki sedikit relasi yang mampu menyokong usaha mereka.”
Untuk mewujudkan harapan kebangkitan perempuan dengan bantuan modal melalui SPKP PNPM Mandiri Perdesaan tentu tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Apalagi di Ciomas yang baru tahun ini akan mendapat bantuan. Ada beberapa faktor menurut saya yang menentukan. Pertama, perempuan sebagai pemanfaat. Kesadaran akan memanfaatkan bantuan tersebut untuk usaha yang mereka sedang jalankan. Artinya, tidak menggunakan untuk keperluan di luar itu karena jika demikian maka akan besar potensi kemacetan angsurannya. Hal ini, memang bisa diantisipasi pada saat verifikasi akan tetapi tentu verifikasi tidak dapat menjamin 100% bantuan tepat sasaran. Kedua, Pemerintah Desa, tentu fasilitasi Pemerintah Desa akan sangat besar artinya bagi kelangsungan program SPKP oleh karena tidak juga dapat menjamin bahwa tahapan-tahapan sosialisasi yang telah dilaksanakan dapat dengan baik diserap oleh pemanfaat. Dan kemudian disinilah peran Pemerintah Desa untuk terus menerus memberikan sosialisasi dengan pendekatan-pendekatan yang tentu lebih efektif. Ketiga, fasilitasi dari pelaku di Desa khusus TPK dan pelaku di Kecamatan khususnya UPK juga menjadi penting oleh karena peran mereka diharapkan tidak berhenti pada menampung pengajuan, dan memberikan bantuan, akan tetapi kemudian ikut juga memberikan bimbingan dan bantuan, baik terhadap pengelolaan administrasi maupun pada pemasaran produk yang dihasilkan pemanfaat bantuan SPKP. Selanjutnya yang terakhir adalah kepedulian dari seluruh masyarakat di mana PNPM sedang berjalan dalam hal ini masyarakat Kecamatan Ciomas. Peran seluruh lapisan masyarakan se-Kecamatan adalah ikut memantau dan memastikan tidak ada penyelewengan dalam program tersebut. Lebih jauh juga membantu memberikan fasilitas seperlunya.
Setidaknya seperti demikian yang terpikirkan oleh saya..,
Atas segala masukan demi kelancaran kegiatan PNPM di Kecamatan Ciomas saya ucapkan terima kasih.
Perempuan Ciomas
Gairah Emansepasi Wanita mungkin menggema di tempat lain—katakanlah “di daerah lain yang lebih maju dari Ciomas”—tetapi tidak demikian dengan Ciomas. Ruang kerja (aktivitas) perempaun Ciomas masih disekitar “kasur – dapur” hal ini mungkin disebabkan akses perempuan yang kurang terhadap informasi—akses informasi di Ciomas memang kurang—tingkat pendidikan yang rendah, dan kesempatan untuk terlibat dalam pengambilan keputusan juga rendah. Hal ini menyebabkan peran perempuan Ciomas memang jauh dari yang diharapkan. Oleh karenanya, saat Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MP) datang ke Ciomas yang notabene mengharapkan lebih besarnya peran perempuan dalam segala keputusan maka beberapa tantangan muncul. Pertama; oleh karena terbiasa manut, perempuan cenderung bersikap pasif, menunggu saja. Rendahnya partisipasi perempuan ini seperti dijelaskan di atas karena menganggap “urusan perempuan tidak sampai sejauh itu, perempuan sudah cukup “urusin dapur sama anak-anak”, tantangan lain adalah para laki-laki pun tidak bisa serta merta melepas dominasinya. Hal ini tampak pada beberapa rapat yang diadakan. Dalam beberapa rapat yang mengalami kebuntuan akhirnya para bapak-bapak mengambil inisiatif memberi arahan. Akan tetapi tentu kami yang hadir; FK, FT, UPK, KPMD, dan Kepala Desa segera mengantisipasi dominasi para bapak-bapak agar tidak merusak substansi rapat tersebut.
Syukur alhamdulilah, beberapa rapat memberikan pelajaran yang baik untuk ibu-ibu. Karena pada Musyawarah Desa Khusus Perempuan, antusiasme ibu-ibu cukup tinggi. Beberapa usulan kemudian dapat diajukan dengan keyakinan penuh. Beberapa kegiatan prioritas siap diantarkan ke Kecamatan untuk dibahas dalam MAD Prioritas dan MAD Penetapan Usulan.
Kami berharap PNPM dapat menjadi momentum pemberdayaan perempuan Ciomas dan mudah-mudahan hal itu tidak hanya bersifat temporer. Sebagaimana output program ini yang diharapkan terwujud adalah peningkatan peran perempuan dalam perbaikan kesejahteraan masyarakat.
Beberapa hal yang secara khusus diharapkan terwujud adalah :
1. Kesadaran perempuan tentang hak yang sama pada hak mendapatkan pendidikan, kesempatan kerja, kesempatan mengembangkan potensi (bakat), kesempatan dalam pengambilan keputusan.
2. setelah tumbuhnya kesadaran akan haknya yang sama, selanjutnya diharapkan perempuan mendapatkan haknya dengan penuh. Hak dalam pendidikan dan lain-lain sebagaimana disebutkan di atas. Oleh karenanya kepada pihak-pihak terkait harus ada kebijakan yang memastikan bahwa tidak ada intervensi terhadap hak-hak perempuan.
3. dalam kaitannya dengan Simpan Pinjam Perempuan, diharapkan kemudian perempuan memiliki kemandirian dalam mengembangkan usahanya. Tidak selalu tergantung kepada pihak lain.
Terima kasih.
Mohon komentarnya…
Perkenalan
Hallo semua,
Kami mengucapkan syukur atas kepercayaan yang diberikan kepada kami, terutama kami sebagai Pengurus UPK maupun kami sebagai masyarakat Ciomas yang akhirnya pada Tahun 2009 ini kami mendapatkan Bantuan Langsung Masyarakat dalam Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat – Masyarakat Perdesaan (PNPM-MP).
Tentunya sebagai ungkapan syukur atas kepercayaan tersebut kami bertekad untuk memanfaat bantuan ini dengan sebaik-baiknya.
Sebagian besar warga masyarakat kec. Ciomas memang hidup dalam kondisi kurang sejahtera, meskipun sebetulnya Kec. Ciomas memiliki potensi sumber daya alam yang cukup, tingkat pendidikan yang rendah, menyebabkan masyarakat Ciomas belum dapat secara maksimal memanfaatkan sumber daya alam tersebut. Selain itu, jalur transportasi juga menjadi salah satu penghambat mobilitas masyarakat yang menyebabkan produktifitas ekonomi mereka rendah. Belum lagi kenyataan bahwa Kecamatan Ciomas dalam bidang tekhnologi (mis; tekhnologi informasi–internet, jaringan telpon) masih jauh tetinggal sehingga sulit bagi warga Ciomas untuk mendapat informasi update, dan atau kemampuan menbangun jaringan (terutama jaringan ekonomi).
Dengan kondisi yang demikian itu, maka kehadiran PNPM MP di Kec. Ciomas merupakan peluang yang sangat menjanjikan untuk bisa mengangkat masyarakat Ciomas ini untuk bangkit agar dapat hidup lebih sejahtera.
Segala doa dan dukungannya sangat kami harapkan, terima kasih.
PNPM-MP 2009 Di Ciomas
Tantangan
Beberapa tantangan yang muncul dalam proses perjalanan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MP) di Kecamatan Ciomas adalah bahwa Program ini adalah sesuatu yang baru atau boleh jadi sangat asing, oleh karena sudah sekian lama mayarakat di Ciomas atau mungkin di sebagian besar wilayah di Indonesia terbiasa dengan pola “disuapin”, seperti anak kecil masyarakat mungkin pula tidak mengerti apa dan untuk apa itu semua. Sehingga saat PNPM MP mulai disosialisasikan butuh tenaga dan waktu yang ekstra agar warga Ciomas dapat benar-benar mengerti Prinsip-prinsip dasar program Program ini sehingga kemudian diharapkan Program ini dapat berjalan dan menghasilkan output sesuai harapan.
Sebetulnya pada MAD Sosialisasi yang dilaksanakan di Kantor Kecamatan yang dihadiri 10 perwakilan desa dengan masing-masing 10 orang, berjumlah total 100 orang tampak besar antusiasme mereka. Tentu membayangkan dana bantuan sebesar 3 milyar yang dibagi 10 desa, 300 juta per desa adalah sesuatu yang sangat menggairahkan. Gairah ini kami pikir akan terus berkobar, sehingga segala rangkaian kegiatan akan berjalan dengan baik. Tetapi ternyata tidak demikian kenyataannya. Pada tahapan penggalian gagasan sebagian masyarakat mulai jenuh, selain dianggap terlalu banyak musyawarah ternyata kegiatan ini juga menuntut swadaya yang lumayan besar. Untuk setiap kegiatan musyawarah yang dibiayai warga mungkin tidak kurang dari 500 ribu. Akan tetapi kami seluruh pelaku, baik ditingkatan desa seperti; KPMD, TPU, TPK, Tim Transek dan Kepala Desa. Juga di tingkat Kecamatan, FK, FT, UPK, BKAD, PL, PjOK dll bertekad untuk terus meyakinkan masyarakat bahwa program ini tidak semata-mata memberi bantuan akan tetapi juga mendorong kemandirian masyakat. Selain itu bahwa seluruh rangkain kegiatan tersebut adalah untuk memastikan bahwa bantuan tidak salah sasaran. Kami tahu, memang usaha ini mungkin tidak 100% berhasil.
Profil Singkat Ciomas
Secara Sosiologis, Kecamatan Ciomas merupakan masyarakat dengan budaya kekeluargaan yang kuat. Masyarakat Ciomas juga masyarakat yang religius, hal ini tercermin dari banyaknya berdiri Pondok Pesantren—pesantren sampai saat ini bukan lembaga pendidikan alternative, tetapi lembaga pendidikan utama—dan Majlis-majlis Ta’lim yang berfungsi sebagai tempat pengajian-pengajian yang selalu penuh hadirin setiap kali pengajian diadakan.
Di sisi lain Ciomas juga masih tertinggal untuk beberapa hal. Misalnya; Bidang informasi, sulit mendapatkan Koran disini, tidak ada internet, tidak ada jaringan telpon (telkom). Warga Ciomas sebagian besar mendapat informasi hanya dari TV, itupun tidak setiap keluarga memilikinya. Padahal informasi di zaman sekarang adalah sesuatu yang sangat penting, oleh karena semakin besar kemampuan masyarakat menyerap informasi maka semakin besar juga kemampuannya untuk meningkatkan produktivitas hidupnya. Untik hal itu kami pikir tak perlu dijelaskan lagi, karena jaringan ekonomi akan sulit dibangun tanpa jaringan telekomunikasi (informasi) yang memadami. Bidang Pendidikan; kami percaya bahwa meskipun lembaga pendidikan berjumlah hitungan jari di sini, akan tetapi masyarakat Ciomas sebetulnya tidak terlalu membutuhkan lebih banyak lagi lembaga pendidikan dibangun, akan tetapi pendekatan yang kreatif untuk menyadarkan masyarakat tentang pentingnya pendidikan karena lembaga pendidikan yang ada saja masih sepi pendaftar—untuk sekolah tingkat atas maksud kami. Atau jika kami boleh mengusulkan Ciomas mungkin membutuhkan sekolah kejuruan, potensi pertanian yang besar di Ciomas tentu membutuhkan tenaga-tenaga terdidik di bidang pertanian agar dapat meningkatkan produktivitas pertanian yang sangat rendah. Tidak ada perpustakaan umum di Ciomas, mungkin karena rendahnya minat baca akhirnya pemerintah rendah juga minat mendirikan perpustakaannya. Meski dimikianpun kenyataannya, bahwa seyogyanya mendirikan satu bangunan perpustakaan lengkap mungkin baik pula untuk memotivasi minat baca masyarakat. Selain itu memang mesti ada pula pendekatan berupa usaha menyadarkan tentang begitu besarnya manfaat membaca bagi kemajuan pola pikir masyarakat.
Sarana transportasi di Kecamatan Ciomas terbilang masih kurang, selain luas jalan yang sempit ditambah lagi banyak yang sudah rusak membuat mobilitas masyarakat sangat rendah. Hal ini tentu berakibat pada kemampuan masyarakat untuk memasarkan hasil buminya. Oleh karena itu pula maka pada saat PNPM masuk ke Ciomas pengajuan untuk berbaikan jalan sangat tinggi. Bahkan pada saat MDKP (Musyawarah Desa Khusus Perempuan) para ibu-ibu selain mengajukan SPP yang wajib juga mengajukan perbaikan jalan. Mungkin ibu-ibu merasa terganggu pula dengan rusaknya sarana transportasi ini.
Sekian dulu untuk saat ini, kami akan sampaikan berita lainnya dikemudian hari.
Terima kasih atas komentarnya.
